Review Acara
HOT DOC #2

Screening dan diskusi film dokumenter HOT DOC#2 yang mengangkat isu pendidikan pada 7 mei 2008 di Kedai Ide Solo mendapat sambutan yang meriah dari para pecinta film di Solo. Semakin tingginya minat pengunjung untuk terlibat dalam diskusi film dokumenter menyebabkan pemutaran kali ini kekurangan tempat duduk sehingga banyak dari peserta diskusi yang bertahan dengan tetap berdiri sampai acara diskusi usai.
HOT DOC #2 mengusung 3 film dokumenter yang bertemakan pendidikan, Film Pelajar bersenjata karya komunitas toelis yang berkisah tentang para pelajar jaman dulu yg berjuang pada pertempuran 4 hari di solo menjadi film pembuka dalam acara ini. Dilanjutkan dengan film 31 : 1 karya Dwi Ari Prastyanto yang menceritakanSeorang tuna netra (Maryatun) yang berjuang untuk bisa mendapatkan hak dan menyelesaikan pendidikannya di SMK dan perguruan tinggi, dan sebagai film penutup diputar Sekolah Kami Hidup Kami karya Steve pillar yang menceritakan Perjuangan dan keberhasilan sekelompok siswa SMU 3 Solo dalam mengungkapkan praktik korupsi di sekolah mereka. Dari ketiga film ini masing-masing memiliki kesamaan yaitu tentang “perjuangan” para siswa/pelajar untuk melakukan “perubahan” pada masanya.
Acara curhat yang juga dihadiri oleh komunitas toelis dan Steve pillar menjadi sangat menarik ketika mengulas latar belakang karya dan pilihan mereka untuk terjun membuat dan menekuni film dokumenter. dalam diskusi jika ditarik satu kesinpulan, Dokumenter maupun film fiksi memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan sebuah pengaruh atau dampak pada penontonya, besar kecilnya sebuah pengaruh film pada penonton juga tergantung pada banyak hal, salah satunya juga tergantung dari tujuan filmaker itu sendiri dalam membuat film.
HOTDOC#2 berakhir pada pukul 22.00 WIB, namun para peserta diskusi masih melanjutkan obrolan sampai jam 24.00 WIB, membahas bagaimana melanjutkan langkah untuk memajukan perfilman di Surakarta. beberapa gagasan terlontar dan saat ini tinggal menunggu realisasinya….
Hmmm Terima kasih semua…AYO BERGERAK LAGI..!!!
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
NGUDARASA # 1

Acara pemutaran dan diskusi film pada hari kamis 2 april 2009 di Kedai Ide Solo, Matakaca mengusung 3 karya film fiksi yang berjudul Asmarandana(Produksi: Prodi TV ISI Surakarta), Omega, dan Mars Bukan Venus(Produksi: Anak Langit Production).
Asmarandana yang merupakan film adaptasi dari sebuah novel mendapat perhatian yang menarik dari para peserta diskusi, berbagai pendapat dilontarkan baik dari sisi teknis penggarapan maupun isi pesan yang terkandung dalam film tersebut. Obrolan mengenai film adaptasi menjadi perbincangan yang gayeng ketika seseorang membanding-bandingkan karya novel dan hasil ketika sudah menjadi karya film.
Secara teknis, film Asmarandana dinilai terlalu banyak shot-shot yang tak terencana. Menurut salah satu orang yang terlibat dalam film tersebut, hal ini dilakukan karena banyak momentum tak terduga bisa diambil ketika proses produksi dan dimaksudkan untuk membantu membangun nuansa dari tiap adegan, hal ini menurut Dia juga sah-sah saja dilakukan dalam proses produksi film. Secara Isi, Film Asmarandana dinilai memiliki alur yang datar sehingga dirasa tidak ada klimak atupun antiklimaknya.
Omega merupakan judul film kedua yang diputar. Film tanpa narasi yang berkisah tentang pecahnya persahabatan gara-gara cinta segi tiga, secara teknis mendapat kritikan ketika ilustrasi musik tidak dimunculkan pada saat credit title, sementara musik-musik yang diambil merupakan hasil karya orang lain.
Mars bukan Venus, film yang bercerita tentang penemuan kembali identitas seorang laki-laki setelah sekian lama menjadi waria, merupakan film penutup dari acara NGUDARASA #1. Dalam film ini peserta diskusi menemukan sebuah kejanggalan ketika suara tokoh waria didubbing dengan suara seorang wanita, hal ini menurutnya justru akan mengurangi “nyawa” dari tokoh yang diperankan.
yaahhhhh begitulah….semua juga masih prosesss, yang nulis ini juga lagi belajar nulis…so mohon maaf kalo ada yang salah
Smangat…!!!!
____________________________________________________________
____________________________________________________________
HOT DOC #1

Diskusi film kali ini bertemakan “HOT DOC #1”. Tema ini diangkat dari ketertarikan para penikmat film terhadap film dokumenter. Acara semalam (red.5 Maret 2009) banyak dihadiri kalangan mahasiswa dan para komunitas film. Acara dibuka oleh Joko Narimo dari MataKaca.
Ada 2 buah film yang diputar. Film pertama berjudul “Sang Pawang Air”, karya Bowo Leksono dari Purbalingga. Film ini mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Pak Mujamil. Pak Mujamil bekerja sebagai guru SD di Desa Singasari. Beliau merasa terketuk hatinya untuk mencari cara bagaimana agar orang-orang di desanya bisa menikmati air bersih. Dengan menerapkan sistem “bejana berhubungan”, warga di desanya bisa menikmati air bersih, tanpa harus mencari jauh-jauh.
Film kedua yang diputar berjudul “Pak Wagiman”, karya dari anak ISI Surakarta. Pak Wagiman adalah seorang yang dengan ikhlas membantu kelancaran lalu lintas. Pak Wagiman tidak ingin dianggap bahwa dia membantu polisi, dia benar – benar ingin mengabdi kepada masyarakat.
Hasil Diskusi:
Dalam diskusi tersebut terjadi perdebatan antara pembuat film dan peserta rembug. Dimana pada sinopsis di utarakan bahwa pak wagiman tidak mau dikatakan membantu polisi dan semata–mata untuk masyarakat. Tetapi dalam film divisualisaikan pak wagiman memakai seragam polisi tanpa atribut. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari salah satu peserta rembug, apakah pak wagiman juga menerima “bayaran” dari kepolisian. Dan kenyataannya memang Pak Wagiman mendapat bayaran itu. Si pembuat film pun sempat mengakui memang itu suatu kontradiktif pada karyanya.
_______________________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________________


mas keren..ayo..terus berjuang ya mas..kesuksesan bersama orang yang saar dan tekun…keep smile…n ciayo…God bless you
mas, klo mau masukin film biar diapresiasi gimana ya?
saya orang solo dan baru saja (mmm… udah 1 taun mksud nya) lulus D3.
dulu sih seneng bikin film… udah beberapa sih
nah, masalahnya, bar lulus, kerja, dan saya merasa rindu masa2 indah waktu buat film ama temen2 satu geng… apalagi pas ngikut diskusi2 film.
weleh weleh, rasanya bung……..
ya, emang gak bagus sih… tapi… yo pengen tak kirim wae, hehehehe
mohon di bales ya
ini email saya:
altered_tama02@yahoo.co.id
Wow, acara Glenikan#2 di Kedai Ide menarik mas/mbak, boleh dong komentar, masalahe isane juga baru komentar heheh..jika dilihat dan diurutkan dari film pertama :
“strowbery bukan jeruk”
aku melihat, pesan yang ingin di sampaikan belum jelas, aku ga dapet apa-apa setelah melihat film ini, tetapi kalo tujuannya untuk menghibur saja mungkin dah dapet karena alur cerita yang diangkat merupakan kejadian sehari2 yang bisa ditemui di sinetron-sinetron kita. yahhh bagiku idenya kurang menarik trus unsur dramatikal dari pemain juga kurang. secara teknis sebenarnya lumayan, tapi kulihat pencahayaanya ga stabil, beberapa shot jumping masih dapat dirasakan.
“The real Indonesian Hero”
Dalam film ini secara ide dasar bagus, dan aku juga pernah melihat karya yang idenya hampir sama dengan karya ini, persaingan antara superhero lokal dan luar (gatotkaca+Superman) kalo ga salah punyae orang surabaya yang judulnya Gatotkaca (Animasi). tapi bagiku ga masalah juga se. Terusssss aku lihat cara bertuturnya terlalu bertele-tele, terlalu banyak scene dan shot yang sebenarnya menurutku ga berbicara apapun. unsur dramatikal juga ga kegarap, back sound ga matc dengan adegan yang ditampilkan..
“Elegi Jakimen”
Film ini mungkin yang menurutku lumayan tergarap, baik secara teknis maupun konsep, meskipun ada beberapa hal yang mengganggu…tapi jika mengingat dengan peralatan seadanya, itu karya yang lumayan optimal jika dibandingkan dengan karya2 sebelumnya…
Oh ya, untuk ketiga2nya lain kali kalo buat film hati2 untuk musiknya, bener juga apa yang diomongkan sama mas deni dan mas anton tadi..
Tapi apapun hasilnya ini adalah satu bagian dari proses, Tetep semangat berkarya, jangan menyerah…sukses buat Matakaca dan komunitas film solo…
Review AWAS MALING.
Secara aku orang biasa yang ndak tau proses pembuatan film. Padahal ngebet. Hehe. Tapi ku menamakan diriku sebagai seorang ‘penikmat’ film bukan ‘penonton’. Maksudnya? Bagiku, cie, orang dateng ke lapangan buat melihat –karena melibatkan panca indera– film or whatever harus bisa punya sense kuat apakah film ini bisa ‘dinikmati’ apa tidak. karena beda menonton dan menikmati tuh laen. Kalau kita dateng cuma nonton, ya yang diandelin cuma tuh mata. Tapi kalau kita dateng buat nikmatin so yang berperan disana adalah otak kita kemudian dipasok he kati and endingnya adalah hati mengatakan ‘Ini film nikmat atau tidak’. Hehehe. Berujung pada kepuasan kita, pulang ada yang dibawa. Nah, yang aku bawa tadi malem setelah ketemu ‘maling’ dapat dilihat tulisanku di bawah neh. Secara aku ndak bisa nungguin tuh diskusi barengnya, coz duty called alias jaga stan.
Pertama, kalau aku buat rangkingisasi atawa peringkat dari the best, Dokumenter Sang Muryanto –judulnya lupa–, fiksi 1 menit tentang Indonesia, Petung, baru kemudian Selendang Pasar Legi.
Kedua alesannya apa dan kenapa?
Dokumenter Sang Muryanto –judulnya lupa–
Sangat ‘Jawa’ banget even aku harus dengerin dengan seksama. Iki loh wong Solo, gitu kiranya. Sisi humanismenya kental sekali. Perjuangan hidup –meski sang tokoh belum tahu hidupnya berlabuh menjadi seperti apa– tapi cerminan proses hidup yang luar biasa. 30 menit cukup menceritakan kekayaan intelektual dia sebagai sang tokoh. Alurnya juga jelas banget, syarat dengan konflik. Adegan berkesan banget pas main ‘gaple’ yah. Dan kemudian rangkaian kisahnya ditutup dengan sang tokoh ‘memasrahkan’ dirinya kepada sang Kholik.
Kekurangan ada di kualitas gambar kalinya. Sama noise yang masih mengganggu banget di beberapa bagian. Tapi secara keseluruhan, OKS BGT!
Fiksi 1 menit tentang Indonesia
Kusuka banget. Ide brilian. Biar sama difable dengan tokoh film pertama. Tapi dalam 1 menit bisa menghadirkan gagasan besar dari sang tokoh, bahkan cita-cita dan kebanggaan yang luar biasa untuk masa depan Indonesia dari sudut mata seorang bocah.
Kekurangannya, tidak ada konflik. Meskipun masa depan adalah sebuah konflik seh… hehehe. Tapi memang ini bukan kategori film alur ya. Tapi sebuah film tentang idealitas, gagasan, dan masa depan. Coblosan Indonesia pada lembaran kertas tuh keren banget.
Petung
Bagus juga. Cukup untuk mengatakan film ini bisa berkomunikasi dengan penikmatnya melalui dialog-dialog yang cukup membuat ‘geer’. Sebuah pesan moral yang kuat bagi kita semua agar tidak meninggalkan budaya leluhur. Tapi kekurangan film ini adalah kualitas gambar –lighting– yang jelek. Sayang…
Selendang Pasar Legi.
Nah, neh film tergagal dari pada tiga di atas. Kenapa?
1. Film ini memang mengangkat tema yang ‘besar’ dan touchable perjuangan seorang ibu. Mungkin sutradaranya wanita kali yah. Tapi sayang pamor sang ibu kalah dengan si Anak yang dalam bertutur kurang menunjukkan empati/emosi sayangnya tidak keluar jadinya ‘datar’ banget. Bahkan ketika dia menceritakan pas ibunya meninggal, biasa banget malah kalah dengan tema besar lagunya bang Iwan. Aduh! Tidak ada adegan meninggalnya si ibu atau wisuda anaknya.
2. Konfliknya jadi kabur neh, karena sosok pasar legi juga hadir, kelihatan banget ketika mau ending… kan ada tuh wawancara sama pejabat pasar legi… nah padahal itu ndak penting. Karena konflik sudah usai. Jadi scene itu sangat annoying banget.
3. Pengambilan gambar/plot tempat yang masih kurang, asal-asalan.
Tapi secara ide, bagus lah, meski tema film jamak banget. Trus musikalisasinya bagus. Yah sayangnya itu tadi, musikalisasi terlalu kuat, dibanding alur cerita. Jadi lebih nonton sebuah konser gitu.
Demikian, riview saya. At least buat penyemangat dalam berkarya. Berkata memang mudah yaa. Hehehe. Tapi bravo buat ke-4-4-nya. Berhasil menunjukkan spirit solo buat Indonesia. Cakep-cakep idenya…
Keep on moving guys…
aku pengen blajar film…….